Friday, September 2, 2016

10:14:00 PM
Melanjutkan cerita yang kemarin Menginjakkan Kaki DI Gunung Merbabu,
Pada malam itu ditengah hujan yang lumayan lebat, suhu yang dingin dan cacing diperut gue yang mulai anarkis kami memasak mie instan yang sudah kami persiapkan. Didalam tenda kompor langsung dinyalakan ditumpangi panci yang bentuknya memprihatinkan yang telah diisi air dan mie instan itu. Dengan persediaan yang mepet kami mencoba berhemat, empat bungkus mie pun dimakan ber enam dengan satu wadah panci tadi secara bergilir muter… Selama tujuh jam tenda kami diguyur hujan akhirnya sekitar jm 3 hujan mulai reda.
 
Gue keluar tenda menginjak rumput yang tergenang air rasanya kaya air es men, dengan dinginnya malam itu temen gue punya akal cemerlang yaitu membuat api unggun biar bias anget-anget an. Akhirnya temen gue cari kayu disekitar tenda-tenda dikumpulin satu persatu, tongkat punya orang pun diambil juga buat dibakar. Setelah kayu itu terkumpul langsung dinyalain pakai korek api. Ternyata ide temenku untuk buat api unggun tidak secemerlang itu, semua kayu basah jadi ga bisa nyala.. namun dengan keyakinan api itu berusaha dinyalakan dengan plastik-plastik bekas mie instan tadi, walupun endingnya tetep ga nyala.

Daripada merasa tersiksa dengan dinginnya ditenda gue dengan 8 orang yang lain melanjutkan menuju puncak untuk memburu ‘sun rise’. Dari  23 orang yang sanggup naik cuma 9 orang denga cewe satu. Medan pun semakin menantang, jalan pun semakin tegak dan tanahpun agak becek karena terkena hujan. 

Perjalanan ternyata masih jauh banget, harus naik turun gunung untuk menuju puncak yang paling tinggi. berkali-kali menaiki pegunungan yang gue kira puncak yang ternyata bukan, masih harus kembali melwati pegunungan-pegunungan itu. Dan akhirnya kami tiba di puncak dan itu membuat kami jadi merasa plong, semua rasa capek hilang sejenak. Walaupun kami gagal melihat ‘sun rise’ karena sewaktu sampai dipuncak banyak kabut. Kami foto-foto disana dengan senangnya. 



Namun ada hal yang sedikit merusak suasana hati gue. Mereka semua pada buat tulisan buat pacar-pacarnya di kertas putih dikasih tulisan-tulisan lebay lalu difoto dengan senyum-senyum. Ada yang kasih tulisan kaya gini 







Lalu gue mau buat tulisan apa?? Apa gue harus buat tulisan “hai ayamku yang baru menetas, jaga ibumu baik-baik ya”   ?? Akhirnya aku buat kaya gini nih..




Gue foto pake kertas putih kosong ga ada tulisannya karena gue ga tau mau nulis apa :( . itu menggambarkan hati gue yang saat itu lagi kosong.. hampaaa.. tidak ada tanda kehidupan… :(
Namun setelah merenung beberapa lama gue kepikiran sesuatu, akhirnya aku tulis se alay ini.






Itu karena gue merasa gagal tidak bisa mendapatkan hati cewe yang gue taksir.. dasar payahh…

Tapi gue sekarang seperti mendapatkan suatu pencerahan bahwa masih banyak hal-hal yang menarik untuk dikerjakan selain menyayangi cewe yang mungkin tidak bisa gue dapetin, mikirin satu cewe yang mungkin tidak pernah mikirin gue.. mengejar cewe yang terus berlari menghindar..  menaruh hati yang terus terhempas tertiup angin.

Gue masih bisa bercinta dengan indahnya alam, bermesraan dengan rumput yang bergoyang, memeluk erat pohon-pohon. Masih ada pemandang-pemandangan, suasana-suasana yang luar biasa disekitar kita yang bisa dinikmati bersama teman-teman, gue jg masih punya kesibukan kuliah dan sekarang gue jadi tertarik belajar nulis blog. Hehe.. 

Gue terinspirasi dari filmnya Raditya Dika bahwa menjadikan pacar seseorang itu tidak perlu dipaksakan. Yang paling penting adalah membuat orang-orang yang ada disekitar kita merasa bahagia. 

Salam Hangat!! :-)

0 komentar:

Post a Comment