Melanjutkan cerita yang kemarin Menginjakkan Kaki DI Gunung Merbabu,
Pada malam itu ditengah hujan yang lumayan lebat, suhu yang
dingin dan cacing diperut gue yang mulai anarkis kami memasak mie instan yang
sudah kami persiapkan. Didalam tenda kompor langsung dinyalakan ditumpangi
panci yang bentuknya memprihatinkan yang telah diisi air dan mie instan itu. Dengan persediaan yang mepet kami
mencoba berhemat, empat bungkus mie pun dimakan ber enam dengan satu wadah panci
tadi secara bergilir muter… Selama tujuh jam tenda kami diguyur hujan
akhirnya sekitar jm 3 hujan mulai reda.
Gue keluar
tenda menginjak rumput yang tergenang air rasanya kaya air es men, dengan
dinginnya malam itu temen gue punya akal cemerlang yaitu membuat api unggun
biar bias anget-anget an. Akhirnya temen gue cari kayu disekitar tenda-tenda
dikumpulin satu persatu, tongkat punya orang pun diambil juga buat dibakar. Setelah
kayu itu terkumpul langsung dinyalain pakai korek api. Ternyata ide temenku
untuk buat api unggun tidak secemerlang itu, semua kayu basah jadi ga bisa nyala..
namun dengan keyakinan api itu berusaha dinyalakan dengan plastik-plastik bekas
mie instan tadi, walupun endingnya tetep ga nyala.
Daripada
merasa tersiksa dengan dinginnya ditenda gue dengan 8 orang yang lain
melanjutkan menuju puncak untuk memburu ‘sun rise’. Dari 23 orang yang sanggup naik cuma 9 orang denga
cewe satu. Medan pun semakin menantang, jalan pun semakin tegak dan tanahpun
agak becek karena terkena hujan.
Perjalanan ternyata masih jauh banget, harus
naik turun gunung untuk menuju puncak yang paling tinggi. berkali-kali menaiki
pegunungan yang gue kira puncak yang ternyata bukan, masih harus kembali
melwati pegunungan-pegunungan itu. Dan akhirnya kami tiba di puncak dan itu
membuat kami jadi merasa plong, semua rasa capek hilang sejenak. Walaupun kami
gagal melihat ‘sun rise’ karena sewaktu sampai dipuncak banyak kabut. Kami foto-foto
disana dengan senangnya.
Namun ada hal yang sedikit merusak suasana hati gue. Mereka
semua pada buat tulisan buat pacar-pacarnya di kertas putih dikasih
tulisan-tulisan lebay lalu difoto dengan senyum-senyum. Ada yang kasih tulisan kaya
gini
Lalu gue
mau buat tulisan apa?? Apa gue harus buat tulisan “hai ayamku yang baru menetas,
jaga ibumu baik-baik ya” ?? Akhirnya aku buat kaya gini nih..
Gue foto
pake kertas putih kosong ga ada tulisannya karena gue ga tau mau nulis apa :( . itu menggambarkan hati gue yang
saat itu lagi kosong.. hampaaa.. tidak ada tanda kehidupan… :(
Namun setelah
merenung beberapa lama gue kepikiran sesuatu, akhirnya aku tulis se alay ini.
Itu karena
gue merasa gagal tidak bisa mendapatkan hati cewe yang gue taksir.. dasar
payahh…
Tapi gue
sekarang seperti mendapatkan suatu pencerahan bahwa masih banyak hal-hal yang
menarik untuk dikerjakan selain menyayangi cewe yang mungkin tidak bisa gue dapetin, mikirin satu cewe yang mungkin tidak pernah
mikirin gue.. mengejar cewe yang terus berlari menghindar.. menaruh hati yang terus terhempas tertiup angin.
Gue masih bisa bercinta dengan indahnya alam, bermesraan dengan rumput yang bergoyang, memeluk erat pohon-pohon. Masih ada
pemandang-pemandangan, suasana-suasana yang luar biasa disekitar kita yang bisa
dinikmati bersama teman-teman, gue jg masih punya kesibukan kuliah dan sekarang
gue jadi tertarik belajar nulis blog. Hehe..
Gue terinspirasi
dari filmnya Raditya Dika bahwa menjadikan pacar seseorang itu tidak perlu
dipaksakan. Yang paling penting adalah membuat orang-orang yang ada disekitar
kita merasa bahagia.
Salam Hangat!! :-)






0 komentar:
Post a Comment